Makna dan Tujuan Pernikahan by Elio Dona

Tujuan dan makna pernikahan

Jadi awalnya aku tu ga paham mengenai makna dan tujuan pernikahan.
Karena kayak kalo ngomongin pernikahan itu aku mikirnya karena memang adatnya kita harus menikah, kita harus punya anak,
Sebenernya sama kayak kita harus kuliah kemudian kita harus bekerja. Kalo bisa kerja yang bisa dapet pensiunan dll….
Sangat standard.

Tapi banyak denger cerita mengenai pernikahan, aku jadi punya satu kesimpulan seperti ini :
Beberapa mindset yang salah mengenai pernikahan menurut aku adalah :
1. Kita menikah supaya hidup mapan
2. Kita menikah supaya bahagia
3. Kita menikah supaya punya anak

Kenapa menurutku salah? Aku akan uraikan ya.

1. Kita menikah supaya hidup mapan
Seakan akan kesannya kok kita menikah supaya kita bisa bergantung secara financial dan mental kepada pasangan kita.
Padahal ketika kita bergantung secara financial ke pasangan kita, banyak sekali efek efek yang bisa dan biasanya terjadi. Misalnya :
– kita jadi merasa powerless. Banyak kasus dimana pihak yang digantungkan secara financial menjadi semena mena. Dan ketika itu terjadi, kita jadi merasa terjebak. Tentunya ini adalah pengecualian ketika sudah terjadi kesepakatan. Dan semestinya karena sudah disepakati, ga boleh ada pihak yang merasa superior, atau menjadi korban keadaan, misal “aku setelah menikah jadi ga bisa beli yang aku suka” atau “aku diancem diusir kalo aku ga berbakti sama suamiku” jadi mental bakalan terserang juga kan…

2. Kita menikah supaya bahagia
Banyak orang yang desperate hidupnya, merasa ga bahagia, kemudian memutuskan untuk menikah dengan harapan supaya dia merasakan kebahagiaan.
Apa sih sebenernya kebahagiaan? Apakah menjadi jaminan bahwa pernikahan itu bikin bahagia? Bukan seperti itu. Pernikahan yang bahagia itu tidak mungkin instan. Pernikahan yang bahagia itu dibangun dari nol.
Mengapa begitu? Karena pertama, pernikahan itu akan melahirkan tanggung jawab besar. Minimal ketika menikah, pasangan dituntut untuk menyelesaikan masalah secara kompromi. Berdasarkan keputusan kedua belah pihak. Padahal kadang keputusan keputusan ini akan banyak sekali pihak yang intervensi.
Misal pasangan pengen beli rumah. Nanti bisa jadi orang tua kedua belah pihak pengennya ditemenin. Ga boleh keluar rumah. Bingung, akhirnya memutuskan untuk ngalah salah satu, kemudian ga betah, terus ngomong sama pasangannya, tanggapannya pasangannya kayak : kok kamu gitu sih ini kan orang tua aku juga?
Belom lagi tuntutan dari pihak lain? Kapan punya anak? Kok ekonominya pas pasan setelah nikah ? Kok nyumbangnya dikit? Stressfull!

3. Kita menikah supaya punya anak
Bener banget punya anak itu seneng. Apalagi kalo masih bayi dan belom bisa ngapa ngapain. Lucu banget ya. So cute.
Tapi apakah dengan punya anak akan bahagia? Apakah dengan punya anak akan mengikat pasangan kita supaya ga selingkuh?
Belom tentu!
Punya anak itu repot dan biaya nya banyak. Punya anak berarti ada 2 pilihan yang mau ga mau harus diambil. Pertama mengurangi jatah uang yang kuta habiskan, atau bekerja semakin keras. Waktu bayi aku mau lahir, aku ngeluarin uang setara 1 bulan penghasilan. Pas melahirkan biaya nya 3 bulan penghasilan. Belom lagi asuransi tiap bulan, tabungan biaya pendidikan. Itu masalah biaya. Belom lagi waktu yang harus kita korbankan untuk begadang sampai waktu untuk nge date karena anaknya ga bisa dititipin. Ngurus anak ribet, kita ga bisa dandan, suami dateng rambut acak acakan, ga pernah nge date, yakin suami ga ngedumel dalam hati?

Mba…. kok yang mba tulis itu seakan akan pernikahannya ga bahagia sih? Mba ada masalah ya sama pernikahannya?

Salah darling. Pernikahanku sangat membahagiakan. Sekarang aku mau sharing, kenapa pernikahanku membahagiakan padahal yang aku tulis tadi kayaknya berat berat.

Pada intinya, pernikahan itu hal yang sangat serius. Karena memang tanggung jawabnya sangat besar. Apalagi ketika memutuskan untuk punya anak. (Punya anak harus diputuskan dan dikalkulasikan ya. Bukan ya karena kayaknya adatnya harus punya anak)

Pertama yang aku pengen bilang, sebelum memutuskan untuk menikah, kita harus menyadari dulu bahwa menikah tanggung jawabnya berat. Minimal seperti yang aku ungkapkan tadi.
Setelah disadari, harus ditanyakan kepada diri sendiri. Apakah kamu kuat secara mental, dan financial.

Kuat financial disini bukan harus kaya hlo ya. Tapi at least tidak nekat. Dan yang lebih penting lagi, ketika temen temen disini punya kemampuan untuk diskusi mengenai financial karena segala hal harus keputusan bersama. Kecuali ada kesepakatan misal segala keputusan ditanggung salah satu pihak.

Terakhir dan paling utama sebenarnya ketika memutuskan untuk menikah kita harus bahagia terlebih dahulu, kita harus tau siapa jati diri kita, apa yang kita inginkan, apa visi dan misi dalam hidup kita, untuk kemudian dicocokan dengan jati diri pasangan kita, apa yang pasangan kita inginkan, dan visi misi hidup pasangan kita. Aku percaya dua orang yang sudah bahagia matang secara mental dan financial, akan melahirkan pernikahan yang bahagia juga. Karena dua orang itu melakukan pernikahan secara sadar, bukan mencari kebahagiaan setelah menikah.

Itu yang aku lakukan dengan pasanganku. Kita tau satu sama lain, kita saling ngobrol, jujur dan terbuka. misal ada yang ga cocok kita cari jalan tengah, dan kita besarkan kadar toleransi. Kita masing masing bisa bahagia sendiri, namun dengan bersama kita tambah bahagia. Bukan tertekan terikat sampe sesek napas dan bukan karena mau ga mau.

Jadi makna pernikahan itu apa?

Masing masing orang beda beda.

Misal gini

Ada suami istri yang punya kesepakatan:

Suaminya ga menafkahin 100% gapapa. Tapi kalo suami main perempuan itu ga akan ada toleransi.

Nah karena istri tidak dinafkahi 100%, maka istri akan membantu perekonomian. Tapi istri minta dibebaskan dari pekerjaan rumah. Cari uang bareng, kerjaan rumah bareng.

Pasangan ini punya makna pernikahan yang beda dari pasangan ini :

Cowonya itu dari pacaran punya penyakit : dia ga bisa mencintai 1 orang wanita jadi dia butuh banyak wanita di hidup nya. Tapi dia emang super kaya banget.

Si cewe uda tau penyakitnya. Dan si cewe ga keberatan asal si cewe dapet status istri dan semua warisan jatuh ke tangan istri.

Tapi apapun keadaan dan bentuk nya, Elio merasa pernikahan itu adalah mengenai kompromi dan toleransi. Karena pernikahan itu 2 orang yang dipersatukan.

Semoga tulisan ini bisa berfaedah buat temen temen disini.

Love you as always,

Xoxo- Elio Dona

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s